FPF Pertimbangkan Skorsing 1-6 Bulan untuk Ronaldo Usai Tinggalkan Kamp Latihan Portugal
Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) menyerahkan kasus Cristiano Ronaldo ke Dewan Disiplin dan mempertimbangkan sanksi larangan bertanding selama satu hingga enam bulan setelah sang kapten meninggalkan kamp latihan di Denmark. Langkah ini diambil setelah Ronaldo tidak dipanggil pelatih Jorge Jesus untuk laga Nations League melawan Norwegia. Presiden FPF Pedro Proença menyatakan keinginan untuk mendamaikan pihak-pihak yang terlibat, sementara saudari Ronaldo, Elma Aveiro, menilai kemungkinan sang kakak tidak kembali ke timnas lebih besar.

JAKARTA, GARIS GAWANG — Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) resmi menyerahkan kasus Cristiano Ronaldo kepada Dewan Disiplin setelah sang kapten memutuskan untuk pulang dari pemusatan latihan di Denmark [3]. Keputusan ini diambil menyusul insiden di mana Ronaldo tidak masuk dalam daftar pemain yang dipanggil pelatih Jorge Jesus untuk laga tandang melawan Norwegia dalam putaran kedua UEFA Nations League 2026-27 [2].
Sebagai konsekuensi dari kepergiannya yang mendadak tersebut, FPF mengonfirmasi bahwa sanksi larangan bertanding otomatis berlaku bagi sang legenda berusia 41 tahun [1]. Besaran hukuman yang sedang dipertimbangkan oleh pihak federasi berkisar antara satu hingga enam bulan, tergantung pada hasil penyelidikan Dewan Disiplin [2].
Kehadiran Ronaldo di kamp latihan Denmark berakhir ketika ia memilih untuk tidak bergabung dengan skuad untuk laga melawan Norwegia, meskipun Portugal telah memastikan diri lolos ke babak perempat final yang dijadwalkan pada Maret 2027 [2]. Ia pun harus menyaksikan dua kemenangan timnas Portugal, termasuk kemenangan atas Norwegia dengan skor 2-1, dari rumahnya sendiri [1].
Di tengah ketegangan ini, Presiden FPF Pedro Proença menekankan pentingnya ketenangan dan kedamaian dalam menyelesaikan konflik internal tim [3]. Proença menyatakan bahwa seluruh pihak duduk bersama dengan keinginan besar untuk membawa sang kapten kembali ke dalam skuad [2].
Saudari Ronaldo, Elma Aveiro, yang berusia 53 tahun, turut menyuarakan pandangannya mengenai krisis ini dalam acara peluncuran buku [1]. Ia menilai bahwa kemungkinan sang kakak tidak akan kembali ke timnas lebih besar daripada kemungkinannya untuk kembali [1]. Elma juga mengungkapkan rasa sedihnya karena merasa rakyat Portugal melupakan pencapaian-pencapaian besar yang telah diraih oleh Ronaldo [1].
Sementara itu, Ronaldo masih fokus pada karier klubnya di Al Nassr, di mana ia telah mencetak 981 gol sepanjang kariernya dan membutuhkan 19 gol lagi untuk mencapai tonggak 1.000 gol [2]. Ia memiliki 26 pertandingan tersisa di Liga Arab Saudi musim 2026-27, yang menjadi fokus utamanya saat ini [2].
VAR Analisis redaksi
Pandangan Redaksi Garis Gawang, bukan bagian dari laporan fakta
Kasus ini menunjukkan kompleksitas hubungan antara institusi federasi dan figur ikonik dalam sepak bola modern. Penyerahan kasus ke Dewan Disiplin oleh FPF menandakan bahwa prosedur standar disiplin tim nasional tetap ditegakkan, terlepas dari status legendaris Ronaldo [3]. Sanksi potensial berupa larangan bertanding selama satu hingga enam bulan merupakan langkah tegas yang berpotensi mengubah dinamika skuad Portugal di masa depan [2].
Reaksi publik yang dipicu oleh pernyataan Elma Aveiro mengenai kemungkinan besar Ronaldo tidak kembali ke timnas menjadi indikator kuat mengenai ketidakpastian masa depan sang kapten [1]. Pernyataan Presiden FPF Pedro Proença yang menyebut adanya keinginan besar untuk mendamaikan pihak-pihak yang terlibat menunjukkan upaya diplomasi internal untuk menjaga stabilitas tim [2]. Namun, dengan Ronaldo yang kini fokus pada target personalnya di Al Nassr, pertanyaan mengenai kapan atau apakah ia akan kembali ke bendera Portugal masih menjadi topik yang patut dicermati [2].
Sumber
- 1
- 2
- 3